Baterai AMR yang cepat habis saat produksi padat tidak selalu disebabkan oleh kerusakan baterai. Dalam banyak kasus, penyebabnya adalah rute yang terlalu panjang, pembagian tugas yang kurang optimal, perjalanan kosong, antrean di charging station, hingga pola operasional yang membuat robot bekerja lebih berat dari seharusnya.
Kondisi ini sering membuat perusahaan terburu-buru menambah unit AMR atau mengganti baterai, padahal akar masalahnya belum tentu berasal dari komponen tersebut. Tanpa evaluasi menyeluruh, investasi tambahan justru berpotensi meningkatkan biaya operasional tanpa memberikan peningkatan produktivitas yang signifikan.
Artikel ini membahas cara mengatur pengisian daya baterai AMR di pabrik melalui evaluasi konsumsi energi, penempatan charging station, pembagian tugas robot, hingga strategi opportunity charging agar armada tetap tersedia saat kebutuhan produksi sedang tinggi.
Mengapa Baterai AMR Lebih Cepat Habis Saat Produksi Sedang Padat?
Saat produksi meningkat, AMR harus menyelesaikan lebih banyak tugas dengan waktu istirahat yang lebih singkat. Robot juga cenderung membawa muatan lebih berat, menempuh perjalanan lebih jauh, serta lebih sering berhenti dan bergerak kembali sehingga konsumsi energi meningkat dibandingkan kondisi operasional normal.
Beberapa faktor yang paling sering menyebabkan baterai lebih cepat habis antara lain:
- Frekuensi perjalanan meningkat. Semakin banyak tugas yang diterima, semakin lama motor, sensor, dan sistem navigasi bekerja tanpa jeda.
- Waktu istirahat antartugas semakin pendek. Robot memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk melakukan charging maupun pendinginan sistem.
- AMR lebih sering berhenti dan bergerak kembali. Proses akselerasi berulang membutuhkan energi lebih besar dibandingkan bergerak dengan kecepatan stabil.
- Robot harus menghindari pekerja atau kendaraan lain. Perubahan jalur dan perlambatan yang terus-menerus membuat konsumsi daya meningkat.
- Jalur AMR mengalami antrean. Robot tetap menggunakan energi saat menunggu giliran bergerak meskipun tidak sedang memindahkan material.
- Muatan mendekati kapasitas maksimal. Beban yang lebih berat membuat motor bekerja lebih keras selama perjalanan.
- Perjalanan tanpa membawa muatan. Energi tetap terpakai meski robot tidak mengangkut material yang memberikan nilai tambah.
- Lantai tidak rata atau memiliki kemiringan. Hambatan gerak yang lebih tinggi menyebabkan penggunaan daya menjadi lebih besar.
Konsumsi baterai sebaiknya dianalisis berdasarkan data operasional aktual, bukan hanya mengacu pada estimasi durasi baterai yang tercantum pada spesifikasi produk.
Periksa Pola Konsumsi Baterai pada Setiap Rute AMR
Setiap rute memiliki karakteristik yang berbeda sehingga kebutuhan energinya pun tidak selalu sama. Oleh karena itu, evaluasi konsumsi baterai perlu dilakukan berdasarkan data perjalanan, bukan sekadar melihat jarak tempuh.
Beberapa parameter yang perlu dibandingkan meliputi panjang rute, durasi perjalanan, berat muatan, jumlah pemberhentian, kondisi lantai, jumlah pintu otomatis, tingkat kepadatan lalu lintas, serta waktu tunggu di titik pengambilan maupun pengantaran.
1. Bandingkan Rute Pendek dan Rute Panjang
Rute yang lebih pendek belum tentu lebih hemat energi. Jalur dengan banyak tikungan, antrean, atau hambatan dapat menghabiskan daya lebih besar dibandingkan rute yang lebih panjang tetapi lancar.
2. Identifikasi Rute dengan Penurunan Baterai Terbesar
Bandingkan persentase penurunan baterai pada setiap perjalanan untuk mengetahui jalur yang paling boros energi. Informasi ini membantu menentukan area yang perlu dioptimalkan lebih dahulu.
3. Evaluasi Perjalanan Tanpa Muatan
AMR tetap mengonsumsi daya saat kembali ke titik awal atau menuju lokasi tugas berikutnya tanpa membawa material. Jika terjadi berulang dalam satu shift, perjalanan kosong dapat menjadi penyumbang konsumsi energi yang cukup besar.
Perjalanan kosong yang terlihat singkat sering kali tidak disadari, padahal akumulasinya dapat menghabiskan kapasitas baterai secara signifikan ketika terjadi puluhan hingga ratusan kali setiap hari.
| Faktor Operasional | Dampak terhadap Baterai | Hal yang Perlu Dievaluasi |
| Rute terlalu panjang | Durasi motor bekerja lebih lama | Kemungkinan memindahkan titik pengambilan lebih dekat |
| Muatan terlalu berat | Motor membutuhkan tenaga lebih besar | Kesesuaian kapasitas AMR dengan beban |
| Terlalu banyak berhenti | Energi lebih banyak digunakan saat akselerasi | Kepadatan jalur dan titik persimpangan |
| Perjalanan kosong | Daya terpakai tanpa memindahkan barang | Pembagian tugas dan posisi AMR berikutnya |
| Waktu tunggu panjang | Robot tetap aktif tanpa menyelesaikan tugas | Kesiapan material dan mesin tujuan |
| Lantai tidak rata | Hambatan gerak meningkat | Kondisi permukaan dan kemiringan lantai |
Evaluasi rute penting untuk memastikan AMR tidak hanya bergerak, tetapi benar-benar memperbaiki alur logistik internal di area produksi. Untuk pembahasan yang lebih luas, baca artikel tentang mengatasi kekacauan alur logistik internal dengan AMR.
Identifikasi Waktu Ketika Banyak AMR Mengisi Daya Bersamaan
Antrean di charging station sering terjadi bukan karena jumlah charger terlalu sedikit, tetapi karena banyak AMR diarahkan mengisi daya pada waktu yang hampir bersamaan. Akibatnya, jumlah robot yang tersedia justru berkurang ketika aktivitas produksi sedang tinggi.
Untuk menemukan penyebabnya, perusahaan perlu mengevaluasi pola charging seluruh armada berdasarkan data operasional harian.
Data yang sebaiknya dianalisis meliputi:
- Waktu AMR mulai mengisi daya.
- Jumlah AMR yang charging secara bersamaan.
- Lama antrean sebelum docking.
- Durasi proses charging.
- Jumlah tugas yang tertunda selama charging.
- Jam produksi dengan permintaan AMR tertinggi.
- Jumlah charging station yang tersedia.
1. Hindari Jadwal Charging yang Seragam
Jadwal charging sebaiknya dibuat bergantian agar tidak seluruh robot meninggalkan area kerja pada waktu yang sama. Cara ini membantu menjaga jumlah AMR aktif tetap stabil sepanjang shift.
2. Sisakan AMR yang Siap Menerima Tugas Prioritas
Sebagian armada sebaiknya dipertahankan dalam kondisi siap pakai untuk menangani permintaan material yang bersifat mendesak. Strategi ini mengurangi risiko keterlambatan pada proses produksi yang kritis.
Menambah charging station belum tentu menjadi solusi apabila penyebab utamanya adalah pola pengisian daya yang seragam di seluruh armada.
Terapkan Pengisian Daya Singkat di Tengah Waktu Tunggu
Opportunity charging memungkinkan AMR mengisi sebagian daya saat sedang tidak produktif tanpa harus menunggu baterai mencapai level rendah. Strategi ini membantu menjaga ketersediaan robot selama jam operasional yang padat.
Waktu yang dapat dimanfaatkan untuk opportunity charging antara lain:
- Menunggu material siap diambil.
- Menunggu pergantian batch produksi.
- Saat operator sedang istirahat.
- Menunggu mesin tujuan menyelesaikan proses.
- Tidak menerima tugas dalam periode tertentu.
- Kembali ke area penyimpanan atau titik awal.
1. Tentukan Titik Tunggu yang Bisa Dijadikan Lokasi Charging
Charging station sebaiknya ditempatkan di area yang memang sering menjadi lokasi tunggu AMR. Dengan begitu, robot dapat mengisi daya tanpa perlu melakukan perjalanan tambahan.
2. Jangan Membuat Robot Terlalu Sering Berpindah ke Charging Station
Opportunity charging tetap memerlukan pengaturan yang tepat. Jika robot terlalu sering menuju charger, konsumsi energi dan kepadatan jalur justru dapat meningkat.
3. Sesuaikan Strategi Charging dengan Jenis Baterai dan AMR
Setiap jenis baterai memiliki karakteristik dan rekomendasi pengisian yang berbeda. Karena itu, strategi charging harus mengikuti panduan dari produsen agar umur baterai tetap optimal.
Opportunity charging akan memberikan hasil terbaik apabila charging station berada di jalur alami pergerakan AMR, bukan di lokasi yang mengharuskan robot memutar jauh hanya untuk mengisi daya.
Prioritaskan Tugas Berdasarkan Sisa Baterai dan Jarak Tujuan
Pembagian tugas AMR sebaiknya mempertimbangkan kapasitas baterai, jarak tujuan, dan tingkat prioritas material. Dengan cara ini, robot dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan tanpa berisiko berhenti di tengah perjalanan akibat kehabisan daya.
1. Berikan Tugas Pendek kepada AMR dengan Baterai Lebih Rendah
AMR yang memiliki sisa baterai terbatas masih dapat digunakan untuk menyelesaikan tugas di area terdekat. Setelah tugas selesai, robot dapat langsung diarahkan menuju charging station tanpa mengganggu alur produksi.
2. Gunakan AMR dengan Baterai Lebih Tinggi untuk Rute Panjang
Rute yang melewati banyak zona, pintu otomatis, atau titik pengantaran membutuhkan cadangan daya yang lebih besar. Penugasan seperti ini lebih sesuai diberikan kepada AMR dengan kapasitas baterai yang masih tinggi.
3. Prioritaskan Material Berdasarkan Tingkat Kepentingannya
Material yang dibutuhkan mesin kritis, memiliki batas waktu tertentu, atau berpotensi menghentikan produksi sebaiknya diprioritaskan terlebih dahulu. Pendekatan ini membantu menjaga kelancaran proses meskipun jumlah AMR yang tersedia terbatas.
4. Hindari Pemberian Tugas Baru Menjelang Batas Minimum Baterai
Sebelum memberikan tugas baru, sistem perlu memastikan baterai masih cukup untuk menyelesaikan perjalanan sekaligus mencapai charging station. Hal ini dapat mencegah robot berhenti di tengah proses pengiriman material.
Batas minimum baterai tidak harus selalu sama untuk semua kondisi. Tugas dengan rute panjang, muatan berat, atau jalur yang padat biasanya memerlukan cadangan daya lebih besar dibandingkan tugas sederhana.

Atur Pembagian Tugas agar AMR Tidak Terlalu Sering Berjalan Kosong
Pembagian tugas yang efisien tidak hanya memilih robot yang tersedia, tetapi juga mempertimbangkan posisi terakhir AMR setelah menyelesaikan pekerjaannya. Strategi ini dapat mengurangi perjalanan kosong sekaligus meningkatkan utilisasi armada.
Beberapa cara yang dapat diterapkan meliputi:
- AMR yang baru selesai mengantar barang langsung ditugaskan mengambil material di area terdekat.
- Dua tugas dengan arah perjalanan yang sama dijadwalkan secara berurutan.
- Robot tidak selalu kembali ke titik awal setelah menyelesaikan pekerjaan.
- Titik parkir dipindahkan mendekati area dengan permintaan material tertinggi.
- Jadwal pengambilan dan pengantaran disesuaikan dengan siklus kerja mesin.
- Perjalanan balik dimanfaatkan untuk membawa kemasan kosong atau material lain.
1. Gunakan Lokasi Terakhir AMR sebagai Dasar Penugasan
Robot yang paling dekat dengan lokasi pengambilan sering kali menjadi pilihan terbaik, tetapi kapasitas baterainya juga perlu dipertimbangkan. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat penugasan menjadi lebih efisien.
2. Gabungkan Tugas yang Memiliki Arah Perjalanan Sejalan
Beberapa tugas dapat dijadwalkan secara berurutan apabila memiliki arah perjalanan yang sama. Cara ini membantu mengurangi perjalanan bolak-balik tanpa muatan dan menghemat konsumsi energi.
Selain konsumsi baterai, perjalanan kosong juga menjadi salah satu bentuk inefisiensi yang sering tidak terlihat dalam laporan operasional harian. Pelajari tanda inefisiensi tersembunyi pada operasional AMR agar penggunaan armada dapat dievaluasi secara lebih menyeluruh.
Untuk mengenali pola seperti perjalanan kosong, antrean, dan pemakaian armada yang kurang optimal, Anda bisa membaca pembahasan tentang inefisiensi tersembunyi pada operasional AMR.
Tempatkan Charging Station di Lokasi yang Tepat
Penempatan charging station berpengaruh langsung terhadap efisiensi operasional AMR. Lokasi yang terlalu jauh atau berada di area dengan lalu lintas tinggi dapat menambah konsumsi daya sekaligus menyebabkan antrean robot.
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan lokasi charging station meliputi:
- Jarak dari area kerja utama.
- Frekuensi AMR melewati lokasi tersebut.
- Ruang yang tersedia untuk proses docking.
- Risiko antrean di depan charger.
- Kedekatan dengan titik tunggu AMR.
- Keamanan instalasi listrik.
- Kondisi suhu dan kebersihan area.
- Kemudahan akses untuk pemeriksaan dan perawatan.
- Kestabilan jaringan komunikasi.
- Potensi penambahan unit AMR di masa depan.
1. Hindari Penempatan Charger di Ujung Area yang Jarang Dilalui
Charging station yang terlalu jauh membuat AMR harus menghabiskan energi tambahan hanya untuk mencapai lokasi pengisian. Akibatnya, efisiensi operasional justru menurun.
2. Sediakan Ruang untuk Proses Docking
AMR membutuhkan area pendekatan yang cukup agar proses docking berlangsung presisi. Ruang yang sempit dapat meningkatkan risiko gagal docking maupun antrean.
3. Jangan Tempatkan Charger di Persimpangan Utama
Robot yang sedang mengisi daya atau menunggu giliran docking dapat menghambat lalu lintas AMR lainnya. Penempatan charger di luar jalur utama akan membuat aliran material tetap lancar.
4. Pertimbangkan Lebih dari Satu Lokasi Charging
Pada fasilitas yang luas, beberapa charging station yang tersebar sering kali lebih efektif dibandingkan satu area charging terpusat. Strategi ini dapat mengurangi waktu tempuh menuju charger sekaligus menghindari penumpukan antrean.
Pantau Penurunan Kapasitas Baterai dari Data Operasional
Kondisi baterai sebaiknya dinilai dari perubahan performanya dalam jangka panjang, bukan hanya berdasarkan persentase daya yang terlihat pada layar. Pendekatan berbasis data membantu perusahaan membedakan antara penurunan kapasitas baterai dan perubahan kondisi operasional.
Data yang sebaiknya dibandingkan meliputi:
- Durasi operasional setelah pengisian penuh.
- Waktu yang dibutuhkan untuk charging.
- Penurunan daya pada rute yang sama.
- Frekuensi AMR kembali ke charging station.
- Jumlah tugas yang diselesaikan setiap siklus baterai.
- Suhu baterai saat bekerja dan mengisi daya.
- Frekuensi munculnya alarm.
- Perbedaan performa antarunit AMR.
1. Bandingkan AMR dengan Model dan Beban Kerja yang Sama
Perbandingan akan lebih akurat jika dilakukan pada unit dengan tipe serta beban kerja yang serupa. Jika hanya satu AMR mengalami penurunan performa, penyebabnya bisa berasal dari baterai maupun komponen pendukung lainnya.
2. Periksa Perubahan Durasi Charging
Waktu pengisian yang berubah secara tidak normal dapat menjadi indikasi adanya masalah pada baterai, charger, atau sistem kelistrikan. Kondisi ini perlu diperiksa sebelum berdampak pada operasional.
3. Buat Batas Peringatan sebelum AMR Mengalami Gangguan
Melalui strategi predictive maintenance pada robot industri, data konsumsi energi dan penurunan kapasitas baterai dapat dimanfaatkan sebagai indikator awal untuk mendeteksi potensi gangguan serta mencegah terjadinya downtime. Perusahaan dapat mengonfigurasi alarm peringatan berdasarkan parameter seperti frekuensi pengisian daya atau jumlah tugas yang diselesaikan.
Selain masalah pada baterai itu sendiri, lonjakan konsumsi daya ini juga efektif untuk mengidentifikasi kendala mekanis lainnya, seperti roda yang aus, hambatan fisik, perubahan rute, atau kondisi lantai yang memaksa motor robot bekerja lebih berat.
Integrasikan Status Baterai dengan Fleet Management dan Sistem Produksi
Integrasi status baterai dengan fleet management memungkinkan pembagian tugas dan pengisian daya dilakukan berdasarkan kondisi armada secara real-time. Sistem dapat mempertimbangkan kapasitas baterai, lokasi AMR, antrean pekerjaan, dan kebutuhan produksi sebelum memberikan tugas baru.
1. Fleet Management untuk Mengatur Armada AMR
Sistem fleet management digunakan untuk memantau posisi robot, status tugas, kapasitas baterai, lalu lintas, dan antrean charging dalam satu tampilan. Dengan data yang terpusat, pembagian tugas menjadi lebih seimbang dan efisien.
2. PLC untuk Mengirim Permintaan Material
PLC dapat mengirim sinyal ketika mesin membutuhkan bahan baku, komponen, kemasan, atau pengambilan produk jadi. Informasi ini membantu AMR merespons kebutuhan produksi secara otomatis dan tepat waktu.
3. HMI untuk Memantau Status AMR
Operator dapat melihat unit yang sedang bekerja, mengisi daya, mengalami alarm, atau tidak tersedia melalui HMI. Monitoring yang jelas membantu pengambilan keputusan operasional menjadi lebih cepat.
4. Industrial Ethernet untuk Pertukaran Data
Jaringan komunikasi yang stabil dibutuhkan agar AMR, charging station, PLC, HMI, sensor, dan sistem produksi dapat bertukar data secara real-time. Tanpa komunikasi yang baik, sinkronisasi antarperangkat akan terganggu.
5. Power Meter untuk Memantau Konsumsi Energi
Power meter dapat digunakan untuk memantau konsumsi listrik charging station dan membandingkannya dengan aktivitas operasional AMR. Data ini membantu evaluasi efisiensi energi armada.
6. Industrial PC untuk Pengolahan dan Penyimpanan Data
Industrial PC mendukung penyimpanan riwayat tugas, charging, alarm, dan performa armada untuk kebutuhan analisis. Data historis ini penting untuk evaluasi kapasitas dan perencanaan operasional jangka panjang.
Gunakan Indikator Ini untuk Menilai Efektivitas Pengelolaan Baterai AMR
Efektivitas pengelolaan baterai tidak cukup diukur dari lamanya baterai bertahan, tetapi juga dari ketersediaan AMR dan jumlah tugas yang berhasil diselesaikan. Dengan indikator yang tepat, perusahaan dapat melihat apakah strategi charging dan pembagian tugas sudah berjalan optimal.
Berikut indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi pengelolaan baterai AMR:
| Indikator | Tujuan Pengukuran |
| Persentase waktu AMR aktif | Mengetahui seberapa lama robot tersedia untuk bekerja |
| Waktu charging | Mengetahui porsi waktu yang digunakan untuk mengisi daya |
| Waktu antre charging | Menemukan kekurangan kapasitas atau masalah penjadwalan |
| Tugas per siklus baterai | Menilai produktivitas setiap kali baterai digunakan |
| Perjalanan kosong | Mengetahui energi yang digunakan tanpa membawa material |
| Tugas tertunda akibat baterai | Menilai dampak charging terhadap produksi |
| Konsumsi daya per rute | Membandingkan efisiensi jalur AMR |
| Frekuensi gagal docking | Menilai kondisi charger dan area pendekatan |
| Jumlah AMR aktif pada jam sibuk | Memastikan armada tersedia saat dibutuhkan |
Indikator tersebut sebaiknya dibandingkan berdasarkan shift, zona, rute, jenis muatan, dan unit AMR agar penyebab masalah dapat terlihat lebih jelas.
Checklist Evaluasi Pengisian Daya dan Pembagian Tugas AMR
Sebelum melakukan perubahan pada sistem charging atau pembagian tugas, perusahaan perlu memastikan seluruh aspek operasional telah dievaluasi secara menyeluruh. Checklist berikut dapat digunakan sebagai acuan:
- Apakah konsumsi baterai setiap rute sudah dicatat?
- Apakah perjalanan kosong sudah dihitung?
- Apakah AMR sering mengantre di charging station?
- Apakah banyak AMR mengisi daya pada waktu yang sama?
- Apakah charging station berada dekat jalur operasional?
- Apakah AMR dengan daya rendah masih menerima tugas panjang?
- Apakah sistem memperhitungkan jarak menuju charger?
- Apakah waktu tunggu AMR dapat dimanfaatkan untuk charging?
- Apakah kondisi baterai dibandingkan antarunit?
- Apakah kondisi roda dan lantai ikut diperiksa?
- Apakah status baterai terhubung dengan fleet management?
- Apakah operator dapat memantau status AMR melalui HMI?
- Apakah tersedia AMR aktif untuk menangani tugas prioritas?
- Apakah strategi charging sudah mengikuti spesifikasi produsen?
FAQ tentang Pengisian Daya Baterai AMR
Berikut beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan terkait pengisian daya dan manajemen baterai AMR di pabrik.
1. Apakah AMR harus menunggu baterainya hampir habis sebelum mengisi daya?
Tidak selalu. AMR dapat memanfaatkan waktu tidak produktif untuk melakukan opportunity charging selama metode tersebut sesuai dengan spesifikasi baterai dan sistem charging yang digunakan.
2. Berapa batas minimum baterai sebelum AMR diarahkan ke charging station?
Batas minimum perlu mengikuti rekomendasi produsen dan mempertimbangkan jarak tugas, berat muatan, kondisi rute, serta jarak menuju charging station. Karena itu, satu angka tidak selalu cocok untuk semua operasional.
3. Apakah charging station perlu ditambah ketika AMR sering mengantre?
Belum tentu. Perusahaan perlu memeriksa jadwal charging, penempatan charger, dan pembagian tugas terlebih dahulu karena antrean dapat terjadi akibat banyak AMR mengisi daya pada waktu yang sama.
4. Apakah baterai yang cepat habis selalu harus diganti?
Tidak. Peningkatan konsumsi daya juga dapat disebabkan oleh muatan, kondisi roda, perubahan rute, kemiringan lantai, kepadatan jalur, atau perjalanan kosong.
5. Apakah AMR dapat mengisi daya secara otomatis?
AMR yang mendukung automatic charging dapat menuju charging station dan melakukan docking tanpa bantuan operator. Pengaturannya dapat disesuaikan berdasarkan level baterai, jadwal, atau kondisi tugas.
6. Apakah data baterai AMR dapat ditampilkan melalui HMI?
Bisa, apabila sistem AMR menyediakan data dan protokol komunikasi yang kompatibel untuk diintegrasikan dengan PLC, HMI, industrial PC, atau sistem monitoring lainnya.
Kesimpulan: Optimalkan Pengisian Daya AMR agar Armada Tetap Siap Saat Produksi Padat
Baterai AMR yang cepat habis saat produksi padat tidak selalu menandakan kerusakan baterai. Dalam banyak kasus, penyebabnya adalah rute yang tidak efisien, perjalanan kosong, antrean charging, penempatan charger yang kurang tepat, serta pembagian tugas yang belum mempertimbangkan kapasitas baterai dan kebutuhan produksi.
Jika antrean charging menjadi masalah utama, fokuskan evaluasi pada jadwal pengisian dan distribusi tugas sebelum menambah charging station. Jika konsumsi baterai meningkat pada rute tertentu, optimalkan jalur, kurangi perjalanan kosong, dan sesuaikan penugasan berdasarkan lokasi serta sisa daya AMR agar armada tetap tersedia saat jam operasional sibuk.
Bangun Sistem Pengelolaan AMR yang Lebih Efisien dan Terintegrasi
Agar pengisian daya dan pembagian tugas AMR dapat berjalan optimal, perusahaan perlu menghubungkan status baterai dengan sistem produksi dan fleet management secara real-time.
Delta Mitra Solusindo dapat membantu mengintegrasikan AMR dengan PLC, HMI touchscreen, industrial Ethernet, industrial PC, power meter, industrial power supply, smart sensor, dan panel kontrol. Dengan sistem yang terhubung, perusahaan dapat memantau kondisi armada, mengatur permintaan material, serta menyesuaikan pembagian tugas dan jadwal pengisian daya berdasarkan kebutuhan produksi aktual.
Alamat: Jl. Diponegoro VI No. 63, Kec. Banyumanik, Kota Semarang
Telepon: +62 24 7640 2285
WhatsApp: +62 811 320 0880
Email: [email protected]
Jam Kerja: Senin – Jumat (08.00 – 17.00 WIB)
